English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik di sini
www.cyberjihad.org

6.28.2011

ukhti,kenapa engkau enggan berjilbab(bagian ketiga)

Posted On 07:54 by agung | 0 komentar


SYUBHAT  KETIGA:  IMAN  ITU  LETAKNYA DI HATI

Jika  seorang  di  antara mereka  ditanya, mengapa  dia tidak  berhijab?  Maka  ukhti  yang  terhormat  ini  akan menjawab: “ Ah, iman itu letaknya di hati”. Ini  adalah  jawaban  yang  paling  sering  dilontarkan  oleh para wanita muslimah yang belum berhijab. Karena  itu di bawah ini akan kita bahas syubhat tersebut.

Sumber syubhat.

Mereka  berusaha  menafsirkan  sebagian hadist,  tetapi  tidak  sesuai  dengan  yang dimaksudkan,  seperti  dalam  sabda  Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

 “Sesungguhnya  Allah  tidak  melihat  pada bentuk-bentuk  (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tetapi  Dia  melihat  pada  hati  dan  amalmu sekalian.”  (HR.  Muslim  No:  2564  dari  Abu Hurairah).

Pengarang  kitab  "Nuzhatul  Muttaqin" berkata:  “Hadits  ini menunjukkan  bahwa  pahala amal  tergantung pada  keikhlasan  hati,  kelurusan niat, perhatian  terhadap situasi hati pelempangan tujuan  dan  kebersihan  hati  dari  segala  sifat tercela yang dimurkai Allah
.
 Definisi Iman: 

Iman  tidak  cukup  hanya  dalam  hati.  Iman dalam  hati  semata  tidak  cukup  untuk menyelamatkan  diri  dari  neraka  dan mendapatkan surga.

Definisi  iman  menurut  jumhur  ulama  Ahlus Sunnah Wal  Jama’ah adalah: “Keyakinan dalam hati,  pengucapan  dengan  lisan,  dan  pelaksanaan dengan  anggota  badan”.  Definisi  ini  terdapat dalam  setiap buku aqidah  (tauhid) kecuali buku-buku  yang  menyimpang  dan  tidak  berdasarkan manhaj (methode) Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kesempurnaan Iman

Dalam  Tashawwur  (gambaran)  kita,  orang yang  mengatakan  iman  dengan  lidahnya,  tetapi tidak  disertai  dengan  keyakinan  hatinya,  itu adalah  keadaan  orang-orang munafik. Demikian pula orang yang beramal hanya  sebatas aktivitas tubuh  anggota  badan,  tetapi  tidak  disertai keyakinan  hati,  itu  merupakan  keadaan  orang-orang munafik.

Pada  masa  Nabi  Shallallahu  ‘alaihi wasallam,  mereka  senantiasa  shalat  bersama beliau,  berperang, mengeluarkan  nafkah,  pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati mereka tidak  pernah  beriman  kepada  agama  Allah. Kepada  mereka,  Allah  menghukumi  sebagai orang-orang munafik, dan balasan untuk mereka adalah berada di kerak neraka (dasar neraka).

Demikian  pula  orang  yang  beriman  hanya dengan hatinya tapi tidak disertai amalan anggota badan. Ini adalah keadaan Iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah, Dzat  yang menghidupkan  dan mematikan,  dia  juga  percaya  terhadap  adanya hari  kiamat,  tetapi  dia  tidak  beramal  dengan anggota tubuhnya. Allah berfirman: 

“ Ia (Iblis) enggan dan takabbur dan adalah dia  termasuk golongan orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 34).

Dalam  AL  Qur’an:  setiap  kali  disebutkan  kata iman, selalu disertai dengan amal, seperti:

 “Orang-orang  yang  beriman  dan  beramal shaleh …”

Amal  selalu  beriringan  dan  merupakan konsekwensi iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.

Kepada  ukhti  yang  belum  berhijab  dengan alasan:  "Iman  itu  letaknya  dalam  hati”  kami hendak  bertanya:  “Andaikata  seorang  kepala sekolah    memintanya  membuat  laporan,  atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra  kurikuler,  atau  menjadi  petugas  piket untuk menjadi guru yang berhalangan hadir atau pekerjaan  lain,  logiskah  jika  ia    menjawab:

“Dalam  hati,  saya  percaya,  dan  belum  mantap terhadap  apa  yang  diminta  oleh  direktur kepadaku,  tetapi  aku  tidak  mau  melaksanakan yang  dikehendakinya  dariku”  Apakah  jawaban ini  bisa  diterima?  Lalu  apa  akibat  yang  bakal  menimpanya?

Ini sekedar contoh dalam kehidupan manusia,  lalu  bagaimana  jika  urusan  itu  berhubungan  dengan  Allah,  Tuhan  manusia  yang  memiliki sifat yang Maha Tinggi?


ukhti,kenapa engkau enggan berjilbab(bagian kedua)

Posted On 07:34 by agung | 0 komentar


SYUBHAT KEDUA: BELUM MANTAP

Hal ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa nafsu dari pada syubhat. Jika seorang muslimah yang belum mentaati perintah berhijab ditanya, mengapa ia tidak mengenakan hijab? Di antaranya ada yang menjawab,“Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika saya telah merasa mantap dengannya saya akan berhijab, Insya Allah”.

Ukhti yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal. Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Jika perintah itu datangnya dari manusia, maka manusia bisa salah, bisa benar. Imam Malik berkata:“ dan setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini”. Yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Selagi masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bisa berucap,“belum mantap” dan ia tidak dihukum karenanya.

Adapun jika perintah itu merupakan salah satu dari perintah-perintah Allah, dengan kata lain Allah yang memerintahkan di dalam kitab-Nya, atau memerintahkan hal tersebut melalui Nabi-Nya agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada tempat bagi manusia untuk mengatakan, “saya belum mantap”.

Bila ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan padahal ia sendiri tahu bahwa perintah tersebut ada di dalam kitab Allah Ta’ala maka hal tersebut berpotensi untuk menyeretnya kepada bahaya yang lebih sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan kebenaran perintah tersebut, maka itu adalah ungkapan yang sangat berbahaya.
 
Seandainya ia berkata: “Aku wanita kotor” aku tak kuat melawan nafsuku,” “jiwaku rapuh” Atau hasratku untuk itu sangat lemah” tentu ungkapan-ungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bisa disejajarkan dengan ucapan: “Aku belum mantap” sebab ungkapan-ungkapan tersebut merupakan pengakuan atas kelemahan, kesalahan dan kemaksiatan dirinya, ia tidak menghukumi dengan salah atau benar terhadap perintah –perintah Allah secara semaunya. Juga tidak termasuk yang mengambil perintah Allah dan mencampakkan yang lain. Allah Y berfirman:

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, kesesatan yang nyata.” (QS.Al Ahzab: 36).


Sikap yang dituntut.

Ketika seorang hamba mengaku beriman kepada Allah, percaya Allah lebih bijaksana dan lebih mengetahui dalam penetapan hukum dari padanya -sementara dia sangat miskin dan sangat lemah– maka jika telah datang perintah Allah tidak ada lagi pilihan baginya kecuali mentaati perintah tersebut. Ketika mendengar perintah Allah, sebagai seorang mukmin atau mukminah, mereka wajib mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang beriman.

“Kami dengar dan kami taat (mereka berdo’a) Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al Baqarah: 285).


Ketika Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan kita. Demikian pula halnya dengan ketika memerintah wanita berhijab, Dia Maha Mengetahui bahwa ia adalah salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita. Allah Ta’ala Maha Mengetahui Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum manusia diciptakan, juga mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak akan terjadi dari berbagai peristiwa, juga Dia mengetahui andaikata peristiwa tersebut terjadi apa yang terjadi selanjutnya.

Dengan kepercayaan seperti ini, yang merupakan keyakinan kita umat Islam, apakah patut dan masuk akal kita menolak perintah Allah yang Maha Luas Ilmu-Nya, selanjutnya kita menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan, dan ilmunya sangat terbatas.

Contoh dari kenyataan sehari-hari.

Sebagai contoh, dapat kita kemukakan dari kenyataan hidup sehari-hari. Bila kita membeli unit komputer sementara orang yang membuatnya ada di dekat kita, dia tahu betul bagaimana mengoperasikannya, memahami dari A sampai Z seluk-beluk alat canggih tersebut, maka logiskah jika kita memanggil tukang cuci mobil untuk mengajari kita cara mengoperasikan komputer? Tentu sangat tidak logis. Akal kita akan mengatakan, bahwa kita mesti memanggil ahli komputer untuk mengajari bagaimana cara penggunaan alat tersebut, berikut cara memperbaikinya jika terjadi kerusakan.

Kita meyakini, yang menciptakan manusia dan membentuknya adalah Tuhan manusia, yaitu Allah. Karena itu sangat wajar, jika Allah yang sangat lebih mengetahui tentang apa yang membahayakan dan memberi manfaat manusia. Dan jelaslah, bertahkim, patuh, dan menyerah kepada selain Allah adalah cermin ketidak- warasan, kebodohan, dan kedunguan. Kandungan ini disebabkan karena kita patuh kepada seseorang yang tidak mengetahui. Barangsiapa yang mengambil nasihat orang bodoh berarti dia menggelincirkan dirinya dalam kebinasaan. Ironinya, inilah yang terjadi pada kita kaum muslimin, betapa banyak kaum muslimin yang menuntut jawaban dari orang yang tidak mengetahuinya. Sebagaimana betapa banyak dari kalangan kita yang tidak memahami bahwa yang dimaksud kata “Islam” adalah menyerah, patuh dan tunduk secara total kepada perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya.

Ukhti, jangan terjerumus pada pertentangan.


Tatkala engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, sebagian mereka ada yang menjawab: “saya juga seorang muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu dan sebagian shalat sunnah, saya puasa Ramadhan dan telah melakukan haji, berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada beberapa yayasan sosial, tetapi saya belum mantap dengan berhijab”.

Pertanyaan buat Ukhti:


“Kalau memang anda sudah dan selalu melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, kepatuhan pada perintah Allah serta takut siksa-Nya jika meninggalkan kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah- perintah itu adalah satu ?

Sebagaimana shalat yang selalu anda jaga adalah suatu kewajiban, demikian juga halnya dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam Al Kitab dan Sunnah. Atau apakah, anda tidak pernah mendengar cercaan Allah terhadap Bani Israil, karena mereka melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian yang lain? Secara tegas, dalam hal ini Allah berfirman

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tidakkah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat pedih, Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS. Al Baqarah: 85).

Selanjutnya, renungkan hadits shahih berikut ini:

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah orang yang diletakkan di tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api. “

Jika seperti ini adzab yang paling ringan pada hari kiamat, lalu bagaimana adzab bagi orang yang diancam oleh Allah dengan adzab yang amat pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat dan meninggalkan sebagian yang lain?

Wahai Ukhti …:

Apakah hanya demi penampilan, kabanggaan dan saling unggul-mengungguli di dunia, lalu anda rela menjual akhirat dan siap menerima adzab yang pedih? Sungguh kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan kebaikan di dunia dan akhirat. Kami minta agar ukhti, mau menggunakan akal sehat dan menentukan pilihan ini.


ukhti,kenapa engkau enggan berjilbab(bagian pertama)

Posted On 07:31 by agung | 0 komentar


SYUBHAT PERTAMA: MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL  

Syubhat ini menyatakan bahwa gejolak nafsu seksual pada  setiap  manusia  adalah  sangat  besar  dan membahayakan. Ironinya, bahaya  ini  timbul ketika nafsu tersebut  ditahan  dan  dibelenggu.  Jika  terus-menerus ditekan, ia bisa mengakibatkan ledakan dahsyat. Hijab  wanita  akan  meyembunyikan  kecantikannya, sehingga para pemuda  tetap berada dalam  gejolak  nafsu seksual  yang  tertahan,  dan  hampir  meledak,  bahkan terkadang  tak  tertahankan  sehingga  ia  lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Sebagai  pemecahan  masalah  tersebut,  satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari mengenakan hijab,

agar  para  pemuda  mendapatkan  sedikit  nafas  bagi pelampiasan nafsu mereka yang  senantiasa bergejolak di dalam.  Dengan  demikian,  hasrat  mereka  sedikit  bisa terpenuhi.  Suasana  itu  lalu  akan  mengurangi  bahaya ledakan  gejolak  nafsu  yang  sebelumnya  tertahan  dan tertekan.

BANTAHAN:

Sepintas, syubhat di atas secara lahiriah nampak logis dan  argumentatif. Kelihatannya,  sejak  awal,  pihak  yang melemparkan  jalan  pemecahan  tersebut  ingin  mencari kemaslahatan  bagi  masyarakat  dan  menghindarkan mereka  dari  kehancuran.  Padahal  kenyataannya, mereka justru menyebabkan  bahaya  yang  jauh  lebih  besar  bagi masyarakat,  yaitu  menyebabkan  tercerai-berainya masyarakat,  kehancurannya,  bahkan  berputar  sampai seratus delapan puluh derajat kepada kebinasaan. Seandainya  jalan pemecahan yang mereka ajukan  itu benar,  tentu  Amerika  dan  negara-negara  Eropa  serta negara-negara  yang  berkiblat  kepada  mereka  akan menjadi  negara  yang  paling  kecil  kasus  perkosaan  dan kekerasannya terhadap kaum wanita di dunia, juga dalam

kasus –kasus kejahatan yang lain. Amerika  dan  negara-negara  Eropa  amat memperhatikan  masalah  ini,  dengan  alasan  kebebasan individual.  Di  sana,  dengan  mudah  anda  akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat. Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim  panas  tiba,  banyak wanita  di  sana  yang membuka  pakaiannya  dan  hanya  mengenakan  pakaian bikini. Dengan  keadaan  seperti  itu, mereka  berjemur  di pinggir  pantai  atau  kota-kota  pesisir  lainnya. Bahkan  di sebagian  besar  pantai  dan  pesisir,  mereka  boleh bertelanjang  dada  dan  hanya  memakai  penutup  ala kadarnya.  Terminal-terminal  video  rental  bertebaran  di seluruh  pelosok  Amerika  dengan  semboyan  “Adults only” (khusus untuk orang dewasa). Di terminal-terminal ini,  anak-anak  cepat  tumbuh  matang  dalam  hal  seksual sebelum  waktunya.  Siapa  saja  dengan  mudah  bisa menyewa  kaset-kaset  video  lalu  memutarnya  di  rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan. Rumah-rumah  bordil  bertaburan  dimana-mana. Bahkan  di  sebagian  negara memajang  para wanita  tuna susila  (pelacur)  di  etalase  sehingga  bisa  dilihat  oleh peminatnya dari luar. Apakah kesudahan dari gaya hidup yang serba boleh (permisif)  itu?  Apakah  kasus  perkosaan  semakin bekurang?  Apakah  kepuasan  mereka  terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan? apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?.

 DATA STATISTIK AMERIKA

Dalam  sebuah  buku  berjudul   “Crime  in  U.S.A” terbitan  pemerintah  federal  di  Amerika  –  yang  berarti data  statistiknya  bisa  dipertanggung-jawabkan  karena  ia dikeluarkan oleh pihak pemerintah, tidak oleh paguyuban sensus- di halaman 6 dari buku  ini ditulis: “setiap kasus perkosaan  yang  ada  selalu  dilakukan  dengan  cara kekerasan  dan  itu  terjadi  di Amerika  setiap  enam menit sekali”.  Data  ini  adalah  yang  terjadi  pada  tahun  1988, yang  dimaksud  dengan  kekerasan  di  sini  adalah  dengan menggunakan senjata tajam. Dalam buku yang sama juga disebutkan:

1.  Pada  tahun  1978  di  Amerika  terjadi  sebanyak 147.389 perkosaan.
2.  Pada  tahun  1979  di  Amerika  terjadi  sebanyak 168.134 perkosaan.
3.  Pada  tahun  1981  di  Amerika  terjadi  sebanyak 189.045 perkosaan.
4.  Pada  tahun  1983  di  Amerika  terjadi  sebanyak 311.691 perkosaan.
5.  Pada  tahun  1987  di  Amerika  terjadi  sebanyak 221.764 perkosaan.


TAFSIR EMPIRIS AYAT AL-QUR’AN.

Data stastik  ini,  juga data-data sejenis  lainnya - yang dinukil  dari  sumber-sumber  berita  yang  dapat dipertanggungjawabkan-  menunjukkan  semakin melonjaknya  tingkat pelecehan  seksual  di  negara-negara tersebut. Tidak  lain, kenyataan  ini merupakan penafsiran empiris  (secara  nyata  dan  dalam  praktek  kehidupan sehari-hari) dari firman Allah:

 “Hai  Nabi,  katakanlah  kepada  istri-istrimu,  anak- anak  perempuanmu  dan  istri-istri  orang  mukmin: "hendaklah  mereka  mengulurkan  jilbabnya  ke  seluruh tubuh mereka". Yang  demikian  itu  supaya mereka  lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (QS. Al Ahzab: 59).

Sebab  turunnya ayat – sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya- karena para wanita biasa melakukan buang besar di padang terbuka sebelum dikenalnya kakus (tempat buang air khusus dan tertutup).   Di  antara  mereka  itu  dapat  dibedakan  antara  budak dengan  wanita  merdeka.  Perbedaan  itu  bisa  dikenali yakni  kalau  wanita-wanita  merdeka  mereka menggunakan hijab. Dengan begitu para pemuda enggan mengganggunya. Sebelum  turunnya  ayat  ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang  hajat  di padang  terbuka  tersebut. Sebagian  orang-orang  durjana mengira  kalau  dia  adalah budak,  ketika  diganggu,  wanita  muslimah  itu  berteriak sehingga  laki-laki  itu  pun  kabur.  Kemudian  mereka mengadukan peristiwa  tersebut  kapada Nabi r  sehingga turunlah ayat ini

Hal  ini  menegaskan,  wanita  yang  memamerkan auratnya,  dan  mempertontonkan  kecantikannya  dan kemolekan  tubuhnya  kepada  setiap  orang  yang  lalu- lalang,  lebih  berpotensi  untuk  diganggu.  Sebab  dengan begitu,  ia  telah  membangkitkan  nafsu  seksual  yang terpendam.

Adapun  wanita  yang  berhijab  maka  dia  senantiasa menyembunyikan  kecantikan  dan  perhiasannya.  Tidak ada  yang  kelihatan  dari  padanya  selain  telapak  tangan dan  wajah  menurut  suatu  pendapat.  Dan  pendapat  lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari pada wanita tersebut selain matanya saja.

Syahwat  apa  yang  bisa  dibangkitkan  oleh  wanita berhijab  itu?  Instink  seksual  apa  yang  bisa  digerakkan oleh  seorang  wanita  yang  menutup  rapat  seluruh tubuhnya itu? Allah mensyariatkan hijab agar menjadi benteng bagi wanita  dari  gangguan  orang  lain.  Sebab  Allah  Ta’ala mengetahui  bahwa  pamer  aurat  akan  mengakibatkan semakin  bertambahnya  kasus  pelecehan  seksual,  sebab perbuatan  tersebut  membangkitkan  nafsu  seksual  yang sebelumnya tenang. Kepada  mereka  yang  masih  mempertahankan  dan meyakini  kebenaran  syubhat  tersebut,  kita  bisa menyanggah kesalahan mereka melalui empat hakikat;

Pertama:  berbagai  data  statistik  telah mendustakan  cara pemecahan yang mereka tawarkan.

Kedua:   Hasrat  seksual  terdapat  pada  masing-masing pria  dan  wanita.  Ini  merupakan  rahasia  Ilahi yang  dititipkan  Allah  kepada  keduanya  untuk hikmah yang amat banyak. Di antaranya adalah demi  kelangsungan  keturunan,  jika  boleh berandai-andai,  andaikata  hasrat  seksual  itu tidak  ada,  apakah  keturunan  manusia  masih bisa  dipertahankan?  Tidak  seorangpun memungkiri  keberadaan  hasrat  dan  naluri  ini. Tetapi  dengan  tidak  mempertimbangkan adanya  naluri  seksual  tersebut  tiba-tiba sebagian  laki-laki  diminta  berlaku  wajar  di tengah  pemandangan  yang  serba  terbuka  dan telanjang. Amat ironi memang.

Ketiga:   Bahwa  yang  membangkitkan  nafsu  seksual laki-laki  adalah  tatkala  ia  melihat  kecantikan wanita,  baik  wajah  atau  anggota  tubuh  lain yang  mengundang  syahwat.  Seseorang  tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah (kecuali  mereka  yang  dirahmati  Allah) sehingga  bisa  memadamkan  gejolak syahwatnya  tatkala  melihat  sesuatu  yang membangkitkannya.

Keempat: Orang yang mengaku bisa mendiagnosa nafsu seksual  yang  tertekan  dengan  mengumbar pandangan  mata  kepada  wanita  cantik  dan telanjang  sehingga  nafsunya  akan  terpuaskan (dan  dengan  demikian  tidak  menjurus  kepada perbuatan  yang  lebih  jauh,  misalnya; pemerkosaan  atau  pelecehan  seksual  lainnya) maka yang ada hanya ada dua kemungkinan:


Pertama: Orang  itu  adalah  laki-laki  yang  tidak  bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh godaan  syahwat  yang  bagaimanapun (bentuk  dan  jenisnya)  ia  termasuk kelompok  orang  yang  dikebiri  kelaminnya sehingga dengan cara apapun mereka tidak akan merasakan keberadaan nafsunya.

Kedua:   Laki-laki  yang  lemah  syahwat  atau impoten.  Aurat  yang  dipamerkan  itu  tak akan mempengaruhi dirinya. Apakah  orang  yang  membenarkan  syubhat  tersebut (sehingga  dijadikannya  jalan  pemecahan)  hendak memasukkan  kaum  laki-laki  dari  umat  kita  ke  dalam salah  satu  dari  dua  golongan  manusia  lemah  di  atas (Na'udzubillah min dzalik)


5.16.2011

Berani Memaafkan

Posted On 01:00 by agung | 0 komentar


Maka disebabkan rahmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran [3] : 159)

Meski Idul Fithri telah berlalu, kehangatan dan nuansa kekeluargaannya yang kental, masih tersisa di bilik batin kita masing - masing. Saat itu, kegembiraan dan wajah sumringah milik setiap orang, bukan monopoli mereka yang berkantung tebal, pengais sampah, pemulung, dan sederet manusia lain hari itu tampil rapi setelah sebelas bulang lamanya kemanusiaan kerap dilecehkan oleh mereka yang senantiasa bergelimang kemewahan.

Bagi masyarakat Indonesia, Idul fitri yang seharusnya merupakan momen kemenangan yang bersifat spiritual ternyata mengalami pelebaran makna yang luar biasa, sedemikian lebarnya sehingga nyaris mengubur hakikat dan pesan substansial dari Idul fitri itu sendiri, yakni harapan; kembalinnya lagi realitas kemanusiaan kita sesuai dengan fitrah penciptaan setelah menjalankan ibadah puasa.

Idul Fitri harus dipahami sebagai akhir perjalanan ibadah puasa ramadhan, dan merayakan lebaran bukanlah tujuan utama, Idul fithri akan menjadi teramat istimewa, kalau kita menjalankan ibadah puasa dan amaliah Ramadhan lainnya dengan benar, Ia hanya akan menjadi perayaan dan pemborosan saja manakalah kita hanya berfikir tentang lebaran, sembari mengabaikan puasa.

Terlepas dari adanya kesalahan dalam memahami Idul Fitri, ada kegiatan positif yang berkaitan dengan Idul Fitri, yakni, saling memaafkan (yang lagi-lagi mengalami perluasan). Masyarakat Indonesia mempraktekannya dengan saling berkunjung kesanak keluarga untuk meminta maaf.

Memohon maaf pada hari biasa mungkin terasa berat, apalagi saat emosi sedang tinggi, tetapi pada saat lebaran, kita dengan sadar akan melakukan itu, bahkan dengan orang yang mungkin belum pernah melakukan kesalahan terhadap kita, pendek kata, semua orang pada hari itu memiliki keberanian dan kesediaan diri untuk meminta maaf.

Tetapi apakah semuanya memiliki kesadaran bahwa keberanian untuk minta maaf haruslah dibarengi dengan keberanian dan kebersediaan diri untuk MEMAAFKAN ? Ungkapan kata maaf dalam situasi dimana semua orang meminta maaf, sebenarnya bukan peristiwa yang istimewa, justru yang paling penting dibangun dalam situasi seperti itu adalah sikap mental memaafkan.

Kalau semua orang telah membangun kesadaran untuk memaafkan, maka tak penting lagi formalisme permohonan maaf, karena semua telah memaafkan meskipun tidak di mintai, namun demikian, meminta maaf secara formal baik pada saat lebaran maupun pada saat saat tertentu tetap harus kita lakukan.

Setidaknya hal itu melatih kita untuk selalu berani meminta maaf, kemampuan memaafkan ternyata tidak semudah ketika kita meminta maaf, karenanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkenan memberikan anjuran langsung kepada manusia agar memberikan maaf kepada orang lain sebagaimana firman Nya; ..... Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka....... (QS. Ali Imran [3] : 159)

Untuk mengecek apakah yang kita lakukan pada saat Idul Fithri bukan sekedar formalisme dari upacara rutin hari permohonan maaf nasional, saat inilah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. Membekas apa tidak, sikap memaafkan itu pada diri kita ? Kalau ternyata baru beberapa bulan kita meninggalkan Idul Fitri dan telah memiliki agenda pertengkaran lagi, maka jelas yang kita lakukan pada saat Idul Fitri hanyalah basa basi dan adat berlebaran belaka artinya, kita masih gagal memetik pelajaran dan membangun sikap mental memaafkan dalam diri kita.

Kenapa memaafkan sulit kita lakukan ? Ada beberapa hal yang melatari munculnya masalah ini :

Pertama, memaafkan adalah kerja hati yang menuntut adanya ketulusan dan keikhlasan yang dalam, maka tidak berlebihan ketika Alloh menyatakan bahwa memaafkan adalah bagian penting dari ciri - ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana firman – Nya : Bersegeralah kamu kepada ampunan Alloh dan surga Nya, yang luasnya seluas langit dan bumi, di berikan kepada orang - orang yang taqwa. Yakni orang - orang yang menafkahkan hartannya diwaktu lapang maupun sempit dan orang - orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Alloh menyukai orang - orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al Imran [3] : 133-134)

Dengan penegasan ayat ini, ternyata membangun sikap mental pemaaf bukanlah perkara gampang, munculnya kualitas pribadi pemaaf membutuhkan proses panjang dan pembinaan diri terus menerus.

Kedua, Dominannya pertimbangan nafsu ketimbang akal, maaf dan memaafkan biasannya terkait dengan telah tersakitinnya harga diri dan fisik kita oleh orang lain, merupakan watak khas manusia dan mungkin sebagian besar makhluk hidup lainnya, bahwa mereka cenderung tidak suka disakiti, kalau ada serangan secara naluriah manusia dan binatang cenderung untuk membalas serangan tersebut.

Berbeda dengan binatang meskipun memiliki naluri yang sama ketika merespon serangan maupun pada saat disakiti, manusia dianugerahi oleh Alloh pertimbangan akal, orang - orang yang matang dan sehat jiwanya akan memiliki perilaku yang di kendalikan oleh pertimbangan akalnya yang sehat.

Sebaliknya banyak pula orang yang gagal atau belum mampu menggunakan sumber daya akalnya secara maksimal, sehingga seluruh hidupnya di kendalikan oleh hawa nafsu dan instingnya saja, kecenderungan nafsu yang gemar dengan hal - hal yang mengenakkan dan memuaskan diri, kalau tidak diimbangi dengan kemampuan akal untuk menghasilkan pertimbangan yang sehat akan menjerumuskan manusia pada perilaku rendah yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan, Alloh berfirman dalam Qur’an surat Yusuf [ayat 53 Dan aku tidak membiarkan nafsuku, Sesungguhnya nafsu itu benar -benar menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dirahmati Tuhanku.

Manusia yang perilaku hidupnya didominasi pertimbangan nafsu, akan sangat kesulitan untuk memberikan maaf kepada orang yang mungkin bersalah kepadanya, dalam pikiran mereka, alangkah tidak logisnya, ketika disakiti dan dirugikan kemudian diminta memberikan maaf begitu saja tanpa membalasnya padahal kemampuan untuk melakukan pembalasan sangatlah mungkin, dengan demikian, membangun sikap pemaaf dalam diri kita mutlak membutuhkan pengendalian hawa nafsu dan kemampuan memanfaatkan akal secara maksimal.

Ketiga orang cenderung tidak memahami manfaat memberikan maaf kepada orang lain, memaafkan sebenarnya cermin dari keanggunan jiwa manusia, kesiapan untuk memberi maaf akan mendorong orang tersebut pada posisi yang lebih terhormat dalam lingkaran pergaulan sosialnya.

Memaafkan merupakan sikap hidup yang bukan saja terpuji, tetapi juga memiliki dampak positif bagi munculnya kondisi psikologis yang sehat bagi siapapun yang melakukannya, patut diketahui bahwa kegagalan kita dalam memberitakan permaafan kepada orang lain, sebenarnya saat itu batin kita tengah dirasuki oleh sifat pendendam yang sangat merusak.

Menyimpan dendam dihati, sama artinya dengan menyimpan racun dalam tubuh kita, rasa dendam yang menggumpal dalam diri akan mengakibatkan hilangnya sifat riang, yang pada gilirannya menghilangkan kesegaran dan gairah hidup positif.

Manusia yang memiliki dendam, gairah dan energi hidupnya hanya akan terfokus kepada upaya pembalasan dendam, padahal hidup terlalu indah untuk tidak dimanfaatkan untuk hal - hal lain yang lebih positif.

Dengan memberi maaf sebenarnya kita sedang menghilangkan beban di hati dan menghilangkan beban dosa bagi orang yang berbuat kesalahan, sehingga memberi maaf akan menempatkan kita pada posisi yang lebih terhormat dan mengundang penghormatan, maka apalagi yang harus kita tunggu untuk memaafkan teman atau saudara kita? Ingat memaafkan itu sehat, Lho .....

Semoga bermanfaat




9.27.2010

Fakta ilmiah kenapa 1 malam Lailatul Qodar lebih mulia dari 1000 bulan

Posted On 20:14 by agung | 0 komentar


Ini ada artikel bagus (sekitar Sep 2008) tentang Lailatul Qadar yang bersumber dari karya Rajendra Kartawiria, Quranic Quotient Centre. Sebagian isi buku ini kemudian dipublikasikan di internet oleh Aulia Muttaqin dan beberapa sumber lainnya.
Manfaatkan malam Ramadhan untuk memperluas ilmu dan membangun keyakinan
Mengapa Ramadhan?
Dalam Islam kita mengenal adanya 4 bulan suci, yaitu Dzulka’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan yang berarti panas pun tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh?
Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahunan. Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18.
Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari).
Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).
Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak.
Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak.
Umat muslim dianjurkan puasa sunnah 3 hari “shaumul biidh” pada saat terang bulan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya.
Tingkat radiasi bervariasi 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA.
Berdasarkan pengamatan, radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahunan, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray.
Radiasi dengan siklus 11,7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2.
Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3)
LQ - 1000 bulan
Building Block …
  • Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama
  • Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr
  • Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan
  • Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan
Itulah sebabnya…
  • Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakekat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan.
  • Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
  • Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan.
  • Umat muslim diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan
  • Lebih utama adalah i’tiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam-malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr
Energi ekstra untuk pembelajaran di bulan Ramadhan…
  • Untuk bisa mengaji malam Ramadhan dibutuhkan energi ekstra
  • Kenyataannya puasa siang hari bukanlah menyebabkan tubuh kekurangan / kehabisan energi
  • Justru puasa menghemat energi tubuh 10% karena tidak digunakan untuk mencerna makanan
  • Energi yang dihemat ini sangat membantu pemahaman pelajaran di malam hari
Three in One di bulan Ramadhan…
  1. Efektif memahami Al Quran di malam hari
  2. Detoksifikasi dan Manajemen Energi di siang hari
  3. Kembali fitrah setelah berpuasa 28 hari berturut-turut
Manfaatkan malam-malam Ramadhan…
  • Untuk dapat dengan mudah memahami makna kehidupan secara komprehensif dan benar, manfaatkan keenceran otak di kesunyian malam Lailatul Qadr
  • Untuk mendapat pemahaman lebih luas, malam-malam di sekitar Lailatul Qadr juga oke (10 malam terakhir Ramadhan)
  • Lebih oke lagi kalau dimulai malam pertama Ramadhan, mumpung siangnya berpuasa
  • Hasil renungan malam ini harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari
  • Nikmat hidup akan diperoleh jika kita berkontribusi positif kepada kehidupan dunia dengan berserah diri kepadaNya
  • Nikmat kehidupan akhirat akan diperoleh bila kita mampu selalu menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia

http://bengawansolo.net/berita/berita-nasional/232-fakta-ilmiah-kenapa-1-malam-lailatul-qodar-lebih-mulia-dari-1000-bulan.html


Entri Populer


ip address

bot last visit

Google bot last visit powered by Bots Visit Yahoo bot last visit powered by  Bots Visit Msn bot last visit powered by  Bots Visit

Blogroll

 

OWN READER Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha